Rabu, 09 November 2011

Misteri Pulau Hantu

    Suatu hari pada liburan akhir semester, Vika dan kawan-kawannya, Sheril, Dika dan Evi berlibur di pantai. Pantai itu sepi, hanya ada mereka berempat dan seorang penjaga pantai.
   "Sepi ya," kata Vika.
   "Bagus donk, daripada rame, harus berdesak-desakan lagi," timpal Sheril.
   "Keliling, yuk!" ajak Evi.
   "Keliling?" tanya Dika.
   "Tuh, lihat, ada speedboat!" kata Evi sambil menunjuk speedboat di dekat seseorang yang kelihatannya seperti penjaga pantai. Penjaga pantai itu memakai kacamata hitam. Rambutnya lebat dan kumis dan jenggotnya tebal sekali hampir menutupi sekuruh wajahnya.
   "Yuk," ajak Vika. Kemudian mereka mengha.mpiri penjaga pantai tersebut.
   "Pak, kami boleh naik speedboat-nya gak?" tanya Evi.
   "Ya, tapi bayar, kan?" si penjaga pantai tersebut tersenyum menggoda. Walaupun tampangnya menyeramkan, tetapi suaranya cempreng, dan itu sempat membuat mereka kaget.
   "Em, iya. Oh ya, Pak, kok pantainya sepi, ya? Memang tiap hari pantainya kayak gini, ya?" tanya Evi.
   "Iya, dulu pantai ini rame. Ramee banget. Tapi sejak gosip pulau hantu itu, pantai ini jadi hampir tidak pernah dikunjungi."
   "Pulau hantu?" tanya mereka hampir bersamaan.
   "Iya, yang itu tuh," si penjaga pantai menunjuk sebuah pulau yang cukup jauh dari pantai. "Katanya sih, banyak orang yang ke sana, tidak balik-balik. Keberadaannya tidak diketahui, bahkan polisi pun tidak berani ke sana. Jadi, kalian jangan sampai mendekati apalagi menginjakkan kaki kalian ke pulau itu kalau kalian tidak ingin itu terjadi pada kalian," lanjut penjaga pantai itu.
   "Oh, i - iya," kata Sheril sedikit takut.
   "Udah, bapak tenang aja, kami hanya keliling di sekitar pantai aja, kok, lagian kami ngapain juga ke sana," kata Evi.
   "Ya sudah, ingat ya, jangan sampai mendekati pulau itu. Ngerti!" penjaga pantai itu mengingatkan.
   "Iya, iya," jawab Evi.
   Mereka kemudian menaiki speedboat  dan Evi mengendarainya. Semakin lama mereka semakin menjauh dari pantai. Samar-samar terdengar teriakan penjaga pantai.
   "Eh, kita kemana?" tanya Sheril.
   "Ke pulau itu," jawab Evi enteng.
   "Hah? Kamu gila, ya? Ayo balik!" teriak Vika.
   "Aku penasaran, Vik. Aku pengen tahu ada apa di pulau itu," belum sempat Vika dan Sheril menjawab, tiba-tiba Dika berteriak, "speedboat-nya bocor!"
   "Apa?!" teriak Evi, Vika dan Sheril bersamaan.
   "Mati! Sebentar lagi kita tenggelam, Vi!" kata Sheril cemas.
   "Tolong! Tolong!!" teriak Vika dan Sheril.
   "Percuma kalian minta tolong, kita sudah terlalu jauh dari pantai, jadi tidak mungkin ada yang dengerin kita lagi," kata Dika.
   "Semuanya gara-gara kamu, Vi! Coba kalau kamu ga nekat mau ke pulau itu, pasti kita ga akan terjebak di tengah laut seperti ini, kan!" Vika menyalahkan Evi.
   "Kok nyalahin aku?! Aku kan hanya pengen tahu aja, lagipula aku juga gak tahu kalau kejadiannya bakal jadi gini," balas Evi.
   "Sudah, ah! Sekarang bukan waktunya bertengkar. Sekarang kita harus cari cara buat nyelamatin diri!" potong Dika.
   "Telepon! Kita telepon minta tolong aja!" usul Sheril.
   "Udah ga ada waktu lagi. Em, sebaiknya kita berenang aja ke pulau itu, satu-satunya jalan yang ada. kalian semua bisa berenang, kan?" usul Evi.
   "Ke pulau hantu itu? Engga, ah!" tolak Sheril.
   "Sheril, ga ada jalan lain lagi," bujuk Evi.
   "Sepertinya memang tidak ada jalan lain lagi. Terpaksa kita harus ke sana. Oklah, kita berenang ke sana," kata Dika.
   Akhirnya mereka pun berenang bersama menuju pulau tersebut - Vika dan Sheril dengan terpaksa.
   "Sebaiknya kkita nelpon aja, cari pertolongan," usul Sheril ketika mereka sampai di pulau tersebut.
   "Sial! Hape-ku rusak gaara-gara kena air!" Vika membanting hape-nya.
   "Aku juga!" gerutu Sheril.
   "Walaupun HP kita masih hidup juga sama aja kok, kita tetap aja ga bisa nelpon. Daerah ini kan ga ada sinyalnya," kata Dika.
   "Em, karena kita sudah sampai ke sini, kita jelajah aja yuk pulau ini!" ajak Evi bersemangat.
   "Vi, kita sampai di pulau ini itu gara-gara kamu! Dan aku gak mau tahu, pokoknya kamu harus ngeluarin kita dari sini!" bentak Vika kepada Evi.
   "Kamu kira aku sengaja apa menjebakin kalian di sini?!" balas Evi tidak mau kalah.
   "Kalau bukan kamu yang nekat ke pulau ini, kita gak akan mungkin terjebak di sini! Oh, jangan-jangan kamu yang sengaja bocorin speedboatnya, biar kita gak bisa balik lagi, kan?" tanya Vika dengan nada yang menantang.
   "Eh, aku gak segila itu kali! Mana mungkin aku melakukan itu pada kalian! Lagian kan aku ke sini itu karena aku pengen tahu..."
   "Udah, ah! Sekarang bukan waktunya bertengkar!" potong Dika. Akhirnya mereka terdiam sejenak.
   "Em, kita istirahat dulu, deh," usul Sheril. Vika dan Evi terus terdiam sampai mereka membuat api unggun dan Evi mulai berbicara.
   "Temen-temen, maafin aku, yah. Sebenarnya aku gak bermaksud mau jebakin kalian di sini..."
   Vika hendak membantah, tapi Dika langsung mencegahnya, "Vik, dengerin dulu Evi bicara sampai selesai."
   "Sebenarnya aku curiga dengan si penjaga pantai itu. Dari cara bicaranya itu mencurigakan sekali. Dan menurutku, pasti ada apa-apanya di pulau ini. Pasti ada yang gak beres..."
   "Tapi, bukan kamu kan yang bocorin speedboatnya?" tanya Dika hati-hati yang sebenarnya bertujuan untuk meyakinkan Vika.
   "Tentu saja bukan. Mana mungkin seorang Evi melakukan itu pada sahabat-sahabatnya," semuanya tersenyum, termasuk Vika.
   "Em, Vi, maafin aku, ya. Aku seharusnya tidak marah-marah tadi," kata Vika.
   "Gak papa kok, aku mengerti perasaanmu," kata Evi senang karena mereka sudah baikan.
   "Eh, kita harus tetap hati-hati loh di pulau ini," kata Sheril.
   "Kenapa? Jadi kamu benar-benar merasa pulau ini ada hantunya?" goda Evi.
   "Bukannya gitu! Siapa tahu kalau pulau ini banyak binatang buas, gitu,"
   "Betul juga kata Sheril. Sebaiknya kita harus hati-hati," kata Dika.
   "Em, aku lapar, nih. Kita cari makanan yang bisa dimakan, yuk!" ajak Vika.
   "OK, kalau gitu kalian bertiga cari buah-buahan atau apa aja lah yang bisa dimakan di dalam hutan, dan aku sendiri cari makanan di pantai," usul Dika.
   Akhirnya Vika, Evi dan Sheril masuk ke dalam hutan. Tidak lama mereka berkeliling, tiba-tiba mereka melihat bayangan putih dengan sedikit bercak merah - yang mereka kira adalah darah - melayang di depan salah satu pohon. Vika dan Sheril berteriak. Evi terkejut, namun ia berhasil menguasai diri untuk tidak berteriak. Evi berusaha untuk mendekati bayangan putih itu.
   "Hei, Evi, apa yang kau lakukan!" bisik Vika setengah berteriak.
   "Hei, ternyata ini hanya kain putih yang tersangkut di pohon, kok!" kata Evi sambil tertawa. Kemudian Vika dan Sheril mendekati Evi.
   "Atau, ini sengaja disangkutin," lanjut Evi dengan nada yang misterius.
   "Buat nakut-nakutin kita?" tanya Sheril. Evi mengangguk.
   "Sialan banget orang itu! Iseng banget, sih!" gerutu Vika.
   "Eh, tunggu dulu. Kalau gitu berarti ada orang lain yang di sini selain kita berempat, donk," lanjut Vika.
   Evi mengangguk serius, "ya, makanya aku bilang ada yang gak beres di pulau ini. Dan kita harus cari tahu."
   "Eh, tapi sebelumnya kita cari buah dulu, donk. Laper," kata Sheril sambil memegang perutnya.
   Setelah mereka mendapat beberapa buah-buahan untuk dimakan, mereka kembali ke tempat api unggun. Sesampai di sana, Dika menghampiri mereka dengan napas tersengal-sengal.
   "Eh, tau gak, tadi aku nemuin perahu!" katanya terengah-engah.
   "Hah?! Dimana, Dik?" tanya Vika.
   "Tuh di semak-semak," katanya sambil menunjuk ke arah yang tak jelas.
   "Em, sebaiknya kamu antarin kami ke sana, deh," kata Evi tak sabar. Akhirnya Dika mengantar mereka ke tempat perahu itu.
   "Loh, perasaan pas pertama kali kita sampai di pulau ini, perahu ini belum ada, kan?" tanya Vika.
   "Sudah kuduga. Berarti memang ada orang lain selain kita berempat di pulau ini. Dan orang itu berarti tahu donk kalau kita ada di sini," kata Evi dengan nada yang serius.
   "Orang yang tahu kita ada di sini... Maksudmu penjaga pantai itu?" tanya Vika.
   "Hah? Masa sih? Dia aja yang larang kita ke sini. Lagipula, mungkin aja itu adalah seseorang yang iseng ke pulau ini, pengen tahu kayak kau," Dika melirik Evi pada kalimat terakhirnya.
   "Kalaupun dia mempunyai tujuan yang sama dengan aku, kenapa dia harus ngerjain kita?" balas Evi tidak senang.
   "Hah? Dia ngerjain kalian?"
   "Iya. Tadi ada kain putih dengan sedikit bercak merah yang digantung di ranting pohon. Kalau bukan kerjaan orang itu, siapa lagi?" kata Evi.
   "Mmm.. siapa tahu orang itu kira kita musuhnya. Atau dia orangnya memang iseng, kali,"
   "Ok-lah, tapi kenapa harus pake nyembunyiin perahu segala?" balas Evi tidak mau kalah.
   "Mungkin takut perahunya hilang... dibawa hanyut air laut, kan?"
   "Yah, kenapa harus di semak-semak? Karena biar tidak ketahuan, kan? Tidak ketahuan sama siapa? Kita, kan? Berarti orang itu sebelumnya sudah tahu kalau kita ada di sini, kan?"
   "Eh.. eh.. kok kalian malah debat, sih?" potong Vika.
   "Sudahlah, berarti kita bisa pulang kan? Naik perahu ini," kata Sheril.
   "Tidak bisa. Kita harus menyelidiki semua ini dulu," kata Evi tegas. Sheril langsung memasang muka cemberut.
   "Tapi ini kesempatan yang bagus, Vi. Ya kan, Vik?" bujuk Dika kemudian melirik Vika.
   "Hah? Mm.. tapi sebaiknya kita memang harus menyelidikinya,"
   "Loh, kamu gak pengen berada di pulau serem ini terus, kan?" tanya Sheril.
   "Tapi, Ril. Evi benar, memang ada yang tidak beres di pulau ini," kata Vika.
   "Ah, ini kan bukan urusan kita. Mendingan kita urusin kita sendiri aja," kata Dika kesal.
   "Oh, kalian takut, ya?" goda Evi.
   "Hah? Siapa yang takut," kata Dika.
   "Ya tuh," kata Sheril.
   "Buktinya, kalian mau cepat-cepat pergi dari sini. Berarti kalian takut donk, berada di pulau ini," kata Evi penuh kemenangan.
   "Aku gak takut, kok," kata Dika dengan suara tegas.
   "Kalau gitu buktikan kalau kalian berani berpetualang di pulau ini,"
   "E.. Aku-"
   "Kenapa? Gak berani?"
   "OK-lah. Siapa takut,"
   Evi tersenyum puas.
   "Eh. Buah kita mana?" tanya Vika.
   "Oh ya, tadi aku jatuhkan di sekitar pantai. Yuk," ajak Evi.
   Sesampai di pantai, mereka terkejut karena buah-buahannya tidak ada.
   "Loh! Mana buah-buahannya?" tanya Evi.
   "Mana aku tahu. Kamu yang narok, kan," kata Dika.
   "Kamu yakin kamu tarok di sini?" tanya Sheril.
   "Yakin. Yakin banget deh," kata Evi.
   "Jangan-jangan orang itu," gumam Vika.
   "Yah, itu sudah pasti. Mungkin orang itu ada di sekitar sini. Ayo kita cari!" kata Evi.
   "Apa? Cari orang itu?" tanya Dika.
   Seolah tidak mendengar Dika, mereka bergegas mencari si pencuri buah-buahan - penjaga pantai. Mereka berjalan menuju ke tengah hutan dan kira-kira sudah sejam lebih.
   "Vi, kita udah terlalu dalam ke hutan nih," kata Sheril cemas.
   "Kita jadi tersesat, kan!" gerutu Dika.
   "Lihat! Lihat!" seru Evi sambil menunjuk sebuah gundukan yang tampaknya seperti sebuah kuburan.
   "Ayo kita gali!" ajak Evi bersemangat.
   "Hah? Gali? Gali itu?" tanya Sheril hampir tidak percaya akan ajakan Evi.
   "Yeah. Masing-masing ambil kayu yang cukup besar untuk menggali. Sekarang. Ayo!" ajak Evi.
   Setelah cukup lama menggali, akhirnya mereka menemukan sesuatu yang terkubur. Ternyata itu adalah seorang wanita. Dan wanita itu telah meninggal.
   Sheril berteriak kemudian mendekap mulutnya, Dika mendekap mulutnya berusaha sekuat tenaga untuk tidak tampak takut dan berteriak, sedangkan Evi dan Vika memekik tertahan.
   "Mayat," gumam Vika tidak percaya.
   Evi dan Vika berjongkok dengan hati-hati untuk mengetahui keadaan mayat tersebut.
   "Sepertinya ini tidak lama dikubur. Bagian-bagian tubuhnya masih utuh," kata Evi. "Dan sepertinya ini dikubur hidup-hidup. Lihat, tidak ada luka atau goresan apapun di tubuhnya," lanjut Evi.
   "Mungkin dibius dulu," timpal Vika.
   "Yeah, mungkin saja. Aku tidak bisa meneliti lebih jauh lagi. Aku bukan detektif," kata Evi.
   Tiba-tiba, seseorang muncul di depan mereka sambil membawa senapan. Ternyata itu adalah si penjaga pantai. Ia mengarahkan senapannya pada mereka.
   "Heh, anak-anak sialan. Tukang ikut campur! Kalian harus memerima akibatnya karena suka ikut campur," katanya dengan suara yang sedikit serak. "Kalian telah bertindak sejauh ini dan telah melihat semuanya. Tidak akan kubiarkan kalian lolos dari tempat ini!" lanjutnya.
   "Sudah kuduga. Kaulah yang menyimpan misteri di pulau ini. Dan kau pasti telah membodoh-bodohi semua orang agar tidak ke sini dengan cerita konyolmu. Tapi sayangnya, kami bukan orang bodoh yang mudah tertipu oleh orang licik sepertimu!" geram Evi.
   Penjaga pantai itu tertawa keras, dan sebelum ia menembak mereka, tiba-tiba ada yang datang lagi dari belakang mereka. "Jangan bergerak! Kalau tidak kami tembak!"
   Ternyata itu adalah serombongan polisi - polisi-polisi tersebut mengepung si penjaga pantai - dan para orang tua mereka, kecuali Dika dan Sheril yang dijemput oleh saudara mereka karena orangtua mereka sedang di luar kota.
   "Duh, kamu kemana aja, sih? Berkeliaran di hutan begini?! Mama cemas banget kamu jam segini gak pulang-pulang," kata ibunya Evi sambil memeluknya. Begitu juga para orang tua yang menangis terharu karena telah menemukan anak mereka masing-masing.
   "Oh, ya, Ma, kok kalian bisa tahu kami ada di sini?" tanya Evi kepada ibunya.
   "Kami melihat ada sesuatu entah apa yang nyaris tenggelam di dekat pulau ini. Setelah diselidiki, ternyata itu speedboat. Maka kami beserta para polisi langsung ke sini dan mencari kalian. Lain kali jangan diulangi lagi, ya!" kata ibunya Evi. Evi tersenyum minta maaf.
   Setelah diinterograsi, ternyata penjaga pantai tersebut, Badu, telah membunuh istrinya dengan cara membius istrinya dan menguburnya hidup-hidup. Alasannya karena sakit hati, istrinya telah berselingkuh dan menipu hartanya.


((:Akan Bersambung ke misteri pulau hantu 2:))

Pengikut